My Alter Ego

 
 
Jumat, 03 Juli 2009
SAATKU TERTIDUR --> CHAPTER 2
BEBERAPA JAM SEBELUMNYA...

Kerlap kerlip lampu remang-remang yg berwarna-warni diiringi dengan suara musik yang begitu keras menggema membahana membuatku semakin menggoyangkan badan sambil meneguk CORONA yang telah menjadi sahabat setiaku. Semua pengunjung bersorak kegirangan sambil tetap menggoyangkan kepala ketika suara musik yang awalnya dapat terdengar dari 5 km jauhnya(seandainya tidak dibatasi dinding kedap suara) mengeras kini mampu menembus bumi dan membangunkan penghuni neraka yang mungkin akan menjadi teman dari kebanyakan pengunjung diskotek ini.

Aku melirik ke jam tanganku yang sudah menunjukkan pukul 11 malam. Sebenarnya sudah saatnya bagiku pulang. Namun sama saja, di rumah juga aku akan sendirian. Ibuku juga pasti saaat ini sedang sibuk berkumpul dengan teman-temannya di pub lain yang sengaja kuhindari. Ayahku paling-paling sedang sibuk dengan ”tamu-tamunya” atau lebih tepatnya dikatakan sebagai ”piaraan-piaraanya”. Mereka sudah lupa bahwa di hari yang sama 20 tahun yang lalu mereka sangat bersuka cita atas kehadiranku di dunia. Mereka lupa akan airmata yang jatuh dari pipi mereka saat itu ketika mereka mendengar tangisanku yang pertama.

Saat itu rumah kami hanyalah sebuah rumah petak berdindingkan triplek berukuran 4x15 dimana ruang tamu juga dapat disebut sebagai ruang makan. Saat itu meja makan kami hanyalah 1x1 meter luasnya namun kami dapat bercanda-ria ketika makan, ibu dapat mengambilkan sayur untukku dan ayahku. Setelah makan ibu akan membersihkan meja makan sementara ayah dan aku akan duduk di ruang makan/tamu menonton bola sambil berdebat mengenai tim mana yang akan menang.

Sekarang rumah yg awalnya berdinding triplek itu telah berubah menjadi sebuah istana megah dengan pagar yang kokoh seperti benteng yang dijaga ketat oleh 3 orang satpam yang disewa khusus oleh orang-tuaku. Ruang makan juga telah terpisah dari ruang tamu. Meja makannya sekarang dapat menampung 20 orang. Suara TV juga tidak pernah terdengar lagi.

Suara musik kembali menyadarkanku dari lamunan. Aku berteriak kepada temanku, ”Hey, gua jalan dulu ya. Ada urusan neh.”
”Kenapa cepat banget? Baru jam 11 lage.” Jawab temanku.

Namun aku sudah terlanjur berjalan menuju pintu keluar sehingga aku juga tidak menjawabnya lagi. Aku berjalan dengan terhuyung-huyung. Sekali sekali aku jatuh, kemudian berdiri lagi dan terjatuh lagi. Aku menabrak seorang pria yang baru turun dari motornya. ”Hati-hati donk kalau jalan,” ia memarahiku. Aku tidak menghiraukannya dan terus berjalan menuju motor kesayanganku. Sebenarnya aku juga tidak ingin ingin pergi seandainya aku tidak teringat bahwa ada urusan yang harus kulakukan. Aku harus pergi mengambil kue ulang tahun yang telah kupesan minggu lalu. Tengah malam begitu sebenarnya tidak akan ada toko kue yang masih buka. Namun pemilik toko ini adalah kenalanku, seorang wanita anggun bernama Vellyn yang kukenal tahun lalu ketika aku juga memesan kue yang sama. Wanita yang awalanya kukira adalah bidadari yang terjatuh ke bumi. Wanita yang telah membuatku bertahan hingga sekarang. Wanita yang juga telah membuatku bersumpah untuk tidak pernah mengijinkan setetes airmatapun jatuh kepipinya.

Akhirnya aku sampai ke motorku. Dengan susah payah aku mengeluarkannya dari tempat parkir dan mulai mengendarainya. Ninja yang kukendarai melaju kencang menusuri jalanan gelap menebas angin malam. Tidak terlihat sebuah kendaraanpun seakan-akan motorku adalah raja dan dengan angkuhnya motorku melaju semakin kencang hingga pada suatu perempatan jalan muncullah sebuah truk besar. Terkejut akupun membunyikan klakson. Mungkin karena gelapnya jalan, truk itu terlambat menyadari keangkuhan yang terpancar dari motorku yang melaju kencang. Atau mungkin juga karena irama dangdut dari radio yang sedang didengar oleh supir truk lah yang menutupi bunyi klakson motorku.

Ahh apapun penyebabnya sudah tidak penting lagi karena hal selanjutnya yang kuingat adalah suara benturan yang begitu keras. Tubuhku terlempar ke atas dan hal terakhir yang kulihat adalah langit yang hitam kelam. Bohong bila orang berkata bahwa ketika maut mengetuk pintumu, wajah orang paling kau cintai akan muncul. Karena pada saat itu yang muncul adalah bayangan kue ulang tahun yang kupesan, rasa manis kue itu bisa kurasakan, lelehan blueberry dengan pinggiran coklat manis yang bercampur di dalam mulut, nikmat sekali. Apalagi jika dinikmati bersama seorang bidadari bernama Vellyn.

Bersambung........
posted by Mariyanti Wen @ 22.31  
0 Comments:

Posting Komentar

<< Home
 
About Me


Name: Mariyanti Wen
Home: MEDAN-KISARAN, SUMUT
About Me: I'm just a little girl who is lost in the big world with my simplicity stuck in its complexity...
See my complete profile

Previous Post
Archives
Links
Tagboard - Dog Names
Name:

URL or Email:

Message [Smilies]: