My Alter Ego

 
 
Jumat, 03 Juli 2009
CERPEN - SAAT KU TERTIDUR --> (belum tau mau buat lanjutannya atau enggak, mrnt u?)
Aku membuka mata dengan perlahan, tak tahu telah tertidur berapa lama. Kepalaku terasa pusing karena disesaki oleh puluhan hal dan masalah yang dengan setianya menghuni pikiranku, menjadi penunggu setia sang akal yang tidak mampu menolak kedatangan setiap masalah baru ke dalam ruangnya yang sempit dan berjamur. Setiap kali kuingin membereskan masalah-masalah tersebut, mereka berdesak-desakan saling menolak, mendorong yang satu dengan lainnya agar bukan mereka yang tereliminasi dari pikiranku. Entah kenapa mereka sangat menikmati suasana di dalam benakku. Tanpa kusadari mereka sudah mulai mengerogoti sang akal mengubahnya menjadi seorang pembangkang, membuat superegoku kewalahan dan egopun harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk membendungnya. Selama ini kucoba menggunakan setiap akal yang tersisa, yang masih setia menemaniku merajut sepi melewati malam sunyi yang dingin dan mencekam. Namun kali ini entah mengapa benakku terasa ringan, semua pikiran itu terbang entah kemana, mungkin menemukan suatu ruang yang lebih nyaman, atau karena ada sesuatu yang enggan mereka beritahukan padaku.

Akupun bangkit dan berdiri, kepalaku terasa pusing sesaat, mungkin karena aku berdiri dengan tiba-tiba. Tapi aku merasa bahagia, rasa sakit yang selama ini menjadi sahabat kepalaku hari ini cuti tanpa sepengetahuanku. Aku teringat ada suatu hal penting yang harus aku lakukan hari ini, namun aku lupa apakah itu. Kemudian ku pun berjalan menyusuri jalan sempit di hadapanku. Aku tidak bisa mengenal jalanan ini. Ada begitu banyak jalan yang saling berhubungan membentuk sebuah jaring yang membentuk sebuah bentuk seperti lingkaran. Di manakah ini? Aku bertanya dalam hati. Namun ku terus berjalan mencari potongan kecil ingatanku, mencari tahu apa hal penting yang harus kulakukan hari ini. Ku berjalan dan terus berjalan hingga akhirnya ku berlari tanpa arah dan akupun berhenti pada suatu titik. Bukan karena menemukan, bukan karena lelah, lebih lagi bukan karena menyerah. Tapi karena ku terpana, terpana akan sebuah benda merah di hadapanku. Benda itu besar, berbentuk menyerupai bola dengan lempengan pipihan diberbagai sudut.

Tanpa henti ku bertanya dalam hati. Benda apakah ini? Ingin ku menyentuhnya, namun tanganku menolak. Ingin ku merabanya, namun akalku berontak. Dari jarak yang berkisar satu centimeter dari tanganku, tanpa menyentuhya aku bisa merasakan hangat benda itu. Seolah ada sesuatu yang terkurung di dalamnya, benda itu mulai goyang. Seakan ada sesuatu yang ingin memaksa keluar, terus memukuli dinding halus benda merah tersebut, dan akhirnya SPLASH benda itupun meledak menyemburkan cairan merah membanjiri jalanan yang semula gelap namun kini menjadi terang benderang akan pantulan warna kemerahan tersebut. Isinya membasahi seluruh tubuhku. Tercium bau besi yang sangat pekat dari cairan merah tersebut. Seketika itu juga sekelilingku menjadi gelap. Jalanan yang terang benderang itu perlahan-lahan mulai memudar warnanya, menjadi gelap.. gelap... dan semakin gelap dan akhirnya hilang dari pandangan. Seluruh tubuhnku terasa nyaman, aku kembali menutup mata dan tertidur.. senyuman tipis terpahat dalam bibirku.

Tidak tahu berapa lama setelah itu (waktu telah menjadi musuh utamaku, aku berjanji jika mampu aku akan melawan sang waktu), aku mendengar suara. Aku mencoba membuka mata namun ku gagal. Rasa kantuk ini terus menyerang. Tetapi aku belum mampu membujuk kedua mataku untuk membuka. Suara yang tadi membangunkanku mulai terdengar jelas. Aku mengenal salah satu pemilik suara itu. Pemiliknya adalah ibuku. Sedangkan orang yang sedang berbicara dengannya tidak ku kenal sama sekali. Samar-samar kudengar ibuku bertanya; ”bagaimana keadaan anak saya dok?”

”kepala putra ibu terhantam keras oleh truk yang menabraknya sehingga terdapat gumpalan darah di otaknya. Namun gumpalan itu sepertinya pecah dan mengakibatkan pendarahan hebat di kepalanya. Kami sudah berusaha sebisa mungkin. Namun Tuhan juga yang akan memutuskan pada akhirnya. Malam ini adalah malam kritisnya. Semua suster telah kami tugaskan untuk stand by dan berjag-jaga jika seandainya terjadi hal di luar yang telah diperkirakan.” jawab si pemilik suara tak dikenal itu.

Arhhh secuil potongan ingatan yang kucari tadi sekarang telah kembali. Namun belum sepenuhnya kembali padaku. Aku masih belum bisa mengingat hal penting apa yang harus ku lakukan hari ini. Aku memohon kepada kedua belah mataku agar mengijinkanku membuka mata. Pada awalnya mereka menolak, namun entah mengapa sebulir air hangat muncul dari kedua mataku dan jatuh membasahi pipiku. Mungkin karena tidak tega akhirnya kedua mata itu membuka sedikit kelopak yang sebelumnya dengan angkuh membentengi penglihatanku. Perlahan ku melihat sekelilingku, di bagian kananku terlihat ibuku sedang berbicara dengan seorang pria berbaju putih sambil berlinang airmata. Dibagian kiriku terlihat ayahku menutup wajahnya dengan tangannya yang telah basah karena airmata yang dicoba disembunyikannya. Ahh pemandangan ini sangat indah. Sangat jarang di dalam hidupku bisa melihat mereka berdua berada di dalam suatu kamar.

Kemudian rasa kantuk kembali menggodaku dan kedua mataku memberi tanda bahwa waktu yang kuminta telah habis. Aku tak kuasa melawan mereka atau memang aku yang terlalu lelah dan kuijinkan saja mereka menarikku kembali. Suara ibuku mulai tidak terdengar. Hanya terdengar suara angin yang memudarl dan detakan jantung yang melemah dan semuanya kembali gelap dan aku kembali melanjutkan tidurku yang nyenyak.

original piece by: mariyanti
posted by Mariyanti Wen @ 22.29  
0 Comments:

Posting Komentar

<< Home
 
About Me


Name: Mariyanti Wen
Home: MEDAN-KISARAN, SUMUT
About Me: I'm just a little girl who is lost in the big world with my simplicity stuck in its complexity...
See my complete profile

Previous Post
Archives
Links
Tagboard - Dog Names
Name:

URL or Email:

Message [Smilies]: