| Jumat, 03 Juli 2009 |
| UNTITLED |
Jari-jariku mulai menyentuh tuts keyboard pada laptopku tersayang. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 12.30 tepat. Perutku sudah mulai merasa lapar namun nafsu makan belum muncul hanya perasaan ingin menuangkan pikiran dalam kata-kata yang muncul. Kemudian ku mencoba menekan tuts keyboard tersebut tetapi jari-jariku seakan enggan menurutiku, mereka berontak, menolak bergerak. Kemudian dengan letih ku menoleh ke samping, menatap pakaian-pakaian yang telah tersusun rapi di dalam sebuah tas melalui pundak kananku yang sedang pegal karena posisi tidur yang kurang nyaman semalam. Tas itu menatap balik dengan pandangan tajam seolah ingin menyampaikan bahwa mereka tidak rela disesaki oleh pakaian yang terlipat rapi tersebut. Aku tidak mampu membalas pandangan tersebut.
Kemudian akupun kembali menatap layar laptop yang belum terisi oleh kata-kata. Dengan sekuat tenaga aku mencoba menggerakkan jari-jariku yang pemberontak. Mungkin memang sudah hukumnya jari-jari itu harus menuruti perintah si pemilik. Merekapun akhirnya takluk akan usahaku dan mulai bergerak mengetik judul yang sesuai. Namun tiba-tiba sang akal yang awalnya berada dipihakku seakan mengikuti jejak jari-jari tersebut dan menolak mengeluarkan kata-kata yang telah kupersiapkan sejak awal.
Kali ini aku terlalu lelah untuk merebut kekuasaan atas tubuhku ini dan menyerah kepada sang akal. Akhirnya kuputuskan untuk menghitung jumlah pikiran yang berada dalam benakku, dalam otoritas sang akal. Terlalu banyak pikiran yang menghuni benakku. Jika saja ini adalah sebuah komputer mungkin akan muncul kalimat ”ur memory is full, please delete some data”. Kucoba memilah milah dan menyusun semuanya berdasarkan prioritasnya. Kemudian kupun sadar waktu yang ada tidak akan cukup untuk melakukannya. Kuberdiri dan dengan tenaga yang tersisa melangkah dengan gontai menuju meja satunya lagi untuk meraih segelas air dan meneguknya. Seolah-olah baterai yang baru dicharge, tenagaku tiba-tiba muncul, tubuh ini seakan diisi kembali dengan aliran semangat baru. Namun ketika ku kembali menyentuh laptopku tersayang, aliran semangat yang tadinya sanggup untukku berlari kini berkurang dan melemah, tetapi cukup untukku mencoba merebut kembali kekuasaan dari sang akal yang tidak mau bekerja-sama.
Hal yang sama dengan kumpulan jari tanganku pun terjadi, sang akal akhirnya memutuskan bahwa yang terbaik adalah bekerja-sama dengan sipemiliknya. Akupun mulai menggerakkan jariku mengetik pikiran-pikiran yang mampu kutuangkan dalam bentuk kata-kata hingga akhirnya kuberhenti dan kusadar. Pikiran-pikiran tersebut telah tercampur aduk, terlalu banyak sehingga tidak dapat dipisahkan lagi. Mungkin sang akal hanya mencoba melakukan yang terbaik untuk melindungiku, agar ku lupa akan semuanya, agar ku tidak mencoba menggali kembali apa yang harusnya terkubur. May it stay hidden forever. Aku mengangkat kedua belah tangan menutupi wajahku. Inikah yang terbaik? Pertanyaan itu terus bergema di dalam pikiranku, enggan melepaskanku walau hanya sedetik saja. Akhirnya kuhanya bisa bersandar lemas tak berdaya di kursi putar ini. |
posted by Mariyanti Wen @ 22.28  |
|
|
|
|
| About Me |
|

Name: Mariyanti Wen
Home: MEDAN-KISARAN, SUMUT
About Me: I'm just a little girl who is lost in the big world with my simplicity stuck in its complexity...
See my complete profile
|
| Previous Post |
|
| Archives |
|
| Links |
|
|
|
Posting Komentar